Edu Health Fair 2020

Edu Health Fair 2020

Poltekkes Kemenkes Riau

Pada tanggal 5-6 Nopember 2020 bertempat di Mal Taman Anggrek, Jakarta Kementerian Kesehatan telah menyelenggarakan Edu Health Fair 2020 pameran pendidikan Poltekkes seluruh Indonesia. Kegiatan yang digelar selama 2 hari ini merupkan ajang memperkenalkan Poltekkes Kemenkes secara umum kepada masyarakat dan dunia industri . Dimana Poltekkes mempunyai inovasi yang dihasilkan berupa produk dan inovasi dari penelitian dosen maupun mahasiswa di bidang kesehatan.

            Edu Health Fair 2020 merupakan kegiatan pameran yang diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pemberdayaan SDM (PPSDM) Kesehatan. Acara ini diselenggarakan sebagai upaya untuk memperkenalkan dan mempromosikan potensi besar yang dimiliki oleh Lembaga Pendidikan di bawah naungan Kementerian Kesehatan.

Mengusung tema “Poltekkes Kemenkes Era 4.0: Menembus Batas dan Produktif di Era Adaptasi Kebiasaan Baru.” Event ini menjadi ruang bertemunya elemen pendidikan, kepemerintahan dan industri. Sehingga tercipta peluang kolaborasi dalam pengembangan sektor kesehatan di Indonesia. Banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam Edu Health Fair 2020 kali ini, diantaranya Pemeran Lembaga Pendidikan di bawah naungan Kementerian Kesehatan yaitu Poltekkes Kemenkes, Pameran Produk Kesehatan, talkshow/seminar dan berbagai kompetisi/lomba.

Pelaksanaan kegiatan tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Dimana tahun ini kegiatan Edu Health menggunakan konsep hybrid event, yaitu mengkombinasikan interaksi langsung melalui even secara onsite di Mall Taman Anggrek Jakarta, dan interaksi digital (online) melalui platform website eduhealthfair.id.

Poltekkes Kemenkes Riau merupakan salah satu institusi pendidikan vokasional di Provinsi Riau juga ikurt berpartisipasi dalam ajang ini. Dalam menghadapi Covid-19 Poltekkes Kemenkes Riau tetap produktif dengan mengembangkan berbagai inovasi menuju sistem pendidikan era digital.

Salah satu inovasi dari dosen jurusan gizi Ibu Dr. Aslis Wirda Hayati, SP.,M.Si yang dipamerkan adalah “Aplikasi Smartphone dari Kalkulator Stunting Balita untuk mendeksi secara dini dan memberikan rekomendasi untuk tindak lanjut kasus Stunting”.

            Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak dari gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Penggunaan smartphone oleh orang tua balita dapat dioptimalkan untuk mengetahui status stunting balita mereka. Kalkulator Stunting Balita tersedia online dan dapat diakses melalui aplikasi bisa diunduh melalui Play Store. Ibu balita dapat menggunakan Kalkulator Stunting Balita  untuk mengetahui status stunting anak mereka dan nutrisi. Petugas Puskesmas juga dapat mengetahui status prevalensi balita pendek dengan menggunakan Kalkulator Stunting Balita ini. Hasil inovasi ini sudah tercatat Hak Cipta oleh Kementerian Hukum dan HAM RI sebagai bentuk perlindungan ciptaan di bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra.

 

Inovasi lainnya yang juga ditampilkan dalam pameran ini adalah dari dosen Jurusan Keperawatan yaitu Ibu Masnun, SST.,M.Biomed dan Bapak R.Sakhnan, SKM.,M.Kes berupa Efektifitas Perawatan Luka dengan Ekstrak Jubirkurihlah, Salep Betadin dan Salep Gentamycin pada Tikus (Rattus Norvegicus). Tradisi masyarakat yang masih menggunakan bahan Jubirkurihlah untuk perawatan tali pusat yang ternyata lebih cepat menyembuhkan tali pusat bayi baru lahir dibandingkan secara madern. Penyembuhan luka yang terlama adalah Gentamycin yaitu 99 jam 12 menit dan yang tercepat adalah Ekstrak Jubirkurihlah 75% yaitu 74 jam 24 menit.

Sebelum penelitian dilaksanakan terlebih dahulu membuat ekstrak jubirkurihlah dengan cara sebagai berikut : daun sirih dipotong halus dan diangin-anginkan, gambir digerus halus di dalam lumpang, kunyik bolai dan jurangau dipotong dan diiris halus, Lada hitam ditumbuk halus. Bahan-bahan yang sudah dipotong dan diiris halus serta digerus dimasukkan ke dalam botol yang gelap dengan pelarut etanol 96% sampai bahan terendam, selanjutnya botol ditutup, dibiarkan selama 5 hari sambil sekali-sekali diaduk/digoyang/dikocok. Setelah 5 hari disaring dan hasil saring (maserat) dikentalkan dengan menggunakan alat “Rotary Evaporator” diulang sampai tiga kali.

Selanjutnya setelah hewan coba beradaptasi (7 hari), memberikan perlakuan yang diawali dengan pembiusan menggunakan cloroform dengan cara diteteskan pada kapas sebanyak 20 tetes, selanjutnya kapas tersebut dimasukkan ke dalam toples, setelah itu hewan coba dimasukkan ke dalam toples, setelah lemas selanjutnya diangkat dari toples dan melakukan pencukuran pada punggung hewan coba. Melakukan desinfeksi pada punggung hewan coba yang sudah dicukur dengan menggunakan alkohol swab, selanjutnya melakukan penyayatan pada punggung hewan coba dengan kedalaman 2 mm dan panjang 1 cm, kemudian dirawat dengan menggunakan ekstrak jubirkurihlah (15 ekor dengan konsentrasi 15%, 15 ekor dengan konsentrasi 20%  dan 15 ekor dengan konsentrasi 25%. Data dikumpulkan dengan cara mengidentifikasi dan mengobservasi efek perawatan luka dengan menggunakan ekstrak jubirkurihlah setiap hari untuk melihat tanda infeksi (merah, bengkak, adanya nanah) dan lamanya waktu penyembuhan luka. Selanjutnya data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hipotesis penelitian ini adalah “ Ada pengaruh ekstrak jubirkurihlah terhadap penyembuhan luka sayatan pada rattus norvegicus